10 Tahun Kemudian Lahirlah Buah Hati Kami

Setelah menikah, seperti pasangan suami istri pada umumnya, saya dan suami, Gunawan Siauw, S.Si., Apt. (42), tentu ingin dikaruniai momongan. Akan tetapi, apa yang didambakan dan diidamkan tak kunjung tiba. Baru 10 tahun kemudian, kami dikaruniai buah hati tercinta yang kami beri nama Tasya Gunawan (12 bulan).

Baca juga : Kerja di Jerman

Selama penantian itu, kami yakin bisa memiliki buah hati, karena kami sehat, bugar, masih muda, usia subur (kala itu), dan saya pun rutin haid sejak masih lajang. Terbukti, saya pun hamil. Hanya saja, setiap kali positif hamil, saya mengalami keguguran. Keguguran pertama dialami pada satu tahun setelah pernikahan, tepatnya 17 De sember 2006, saat usia kehamilan masuk minggu keempat. Setelah itu, saya kembali mengalami keguguran, dan terus begitu, hingga lima kali.

Menurut dokter, hormon HCG saya rendah. Buktinya tiap kali telat haid testpack saya menunjukkan tidak positif hamil, sehingga baru setelah keguguran saya baru tahu kalau sempat hamil. Nah, saat itu dokter mendiagnosis saya mengalami salpingitis. Sayang, dokter tidak melakukan tindakan apa pun, hingga akhirnya saya memutuskan pindah dokter. Dokter yang baru kemudian menyarankan saya melakukan pemeriksaan laparoskopi. Dokter menjelaskan, salpingitis biasa dikenal dengan peradangan pada saluran tuba. Kondisi ini menjadi penyebab ketidaksuburan pada perempuan. Jika tidak ditangani dengan tepat, dapat merusak tuba falopi, sehingga telur tidak bisa bertemu dengan sperma.

Untuk mendeteksi salpingitis memang tidak mudah, apalagi pada kasus ri ngan, karena tidak memiliki gejala. Jika disertai gejala, salpingitis ini disertai dengan keputihan tidak normal (bau dan warnanya tidak biasa), bercak antara periode haid, nyeri saat ovulasi (menstruasi), hubungan seksual tidak nyaman atau menyakitkan, demam, nyeri perut pada kedua sisi, nyeri punggung bawah, sering buang air kecil, mual dan muntah. Gejalanya ini bisa muncul setelah masa menstruasi. Salpingitis disebabkan bak teri yang masuk ke dalam tubuh, bisa melalui hubungan seks, IUD, keguguran, persalinan, dan usus buntu. Namun, kondisi salpingitis yang saya alami, penyebabnya tidak terdeteksi pasti. Sebab, dari hasil pemeriksaan lab hingga dua kali, hasilnya bagus, tidak ada yang dicurigai.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

This entry was posted in Parenting. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *