Petani Karet Mulai “Seka Air Mata”

Kondisi tersebut dibenar kan Sardo. “Ya memang sudah tiga tahun terakhir ini petani karet diuji Tuhan. Harga karet jatuh ke angka yang tidak masuk akal, hanya Rp3.000Rp4.000/kg. Dan baru sebulan ini harga karet agak membaik menjadi Rp7.000/kg,” ungkap Ketua Ke lompok Tani Margo Makmur, Desa Rejomulyo, Kecamat an Jatiagung, Lampung Selatan, Provinsi Lampung kepada AGRINA, baru-baru ini.

Di desanya, sekitar April silam, harga karet naik dari Rp4.000 menjadi Rp5.500/kg. Lalu tak lama kemudian terus naik menjadi Rp6.000Rp6.500. Dan baru sebulan terakhir naik lagi ke harga Rp7.000/kg. Jadi, lanjut Sardo, ibarat selama ini petani karet menangis, maka sekarang baru menyeka air mata. Kapan tersenyum? Ya, jika harga karet sudah kembali pulih seperti sebelum anjlok, berkisar Rp17 ribu-Rp18 ribu/kg.

Tanaman karet yang sudah lama tidak disadap, menurut pemilik 1,5 ha ke bun karet ini, ternyata produksi getahnya jauh berkurang. Butuh waktu seminggu dua minggu hingga kucuran getahnya kembali normal. Jangan Terulang Karet milik Sardo yang sudah berumur 12 tahun kini kembali menghasilkan 80 kg/ha/minggu. Ia menggandeng warga lain untuk menyadap karet nya dengan sistem bagi hasil, 1/3 (pe nyadap) : 2/3 (pemilik). Setelah dik umpulkan hingga seminggu getah mentah tersebut dibeli pengepul sehar ga Rp7.000/kg.

Seiring naiknya har ga karet, petani di Jatiagung kembali memupuk tanamannya antara lain dengan pupuk kandang yang sudah difermentasi dan urea. Namun memasuki pekan kedua Rama dan, harga jual karet kembali agak melemah. Diperkirakan pasokan karet dari petani melimpah karena umumnya petani membutuhkan dana untuk bia ya selama bulan puasa dan menghadapi Lebaran. “Kalau sembako, terutama daging, harganya naik tinggi menjelang Lebaran, karet justru turun.

Jadi ndak imbang antara penjualan hasil tani dengan biaya kebutuhan hidup sehari-hari,” ungkapnya. Menyuarakan aspirasi para petani karet, Sardo berharap pemerintah mengusahakan agar harga karet kembali pu lih. “Jangan sampai terulang lagi ma sa kelam sebelumnya. Karena harga karet sudah terlalu murah, maka tahun 2014, karet saya tebang setengah hektar dan diganti dengan jagung,” kenangnya. Padahal saat kejayaan tahun 2000-an silam, di Jatiagung banyak sawah tadah hujan yang dikonversi menjadi kebun karet. Dari 600 ha areal persawahan, 300 ha di antaranya dikonversi.

“Pak Camat berkali-kali mengingatkan ka mi agar jangan sampai semua sawah berubah menjadi karet karena belum ten tu selamanya harga karet mahal. Se karang omongan Pak Camat tersebut terbukti dan warga yang menyulap semua sawahnya menjadi kebun karet gigit jari,” cerita Sardo. Sejak harga merosot, seki tar 30% kebun karet, teruta ma yang belum mengha silkan, kembali di bongkar lalu diganti jagung, padi, atau singkong. Sedangkan tanaman berumur 10 ta hun ke atas masih dipertahankan karena sudah menghasilkan.

Tetap Bertahan Suhartiningsih, anggota Ke lompok Tani Margo Mak mur merupakan petani yang masih mempertahankan tanaman karetnya, setengah hektar umur 14 tahun dan setengah hektar lain nya belum menghasilkan. Dari kebun yang menghasilkan, Ning sih mendapatkan 35-40 kg getah karet/minggu. Namun sejak harga me lemah lagi, ia cukup risau. Untuk me nambah penghasilan keluarga, ia bersama suaminya menanam sayurma yur di sawahnya yang berada di dekat bendungan Way Kibang. Tapi sayang, bendungan yang dibangun pada 2015 itu jebol diterjang banjir sehingga kini ia hanya mengandalkan hujan untuk menyiram sayuran.

Ia berharap, sehabis Lebaran, harga kem bali naik mengingat produksi karet sudah jauh berkurang karena banyak tanaman karet yang dibongkar sang pemilik.

Website : kota-bunga.net

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *